Berita Terkini

Peningkatan Tata Kelola Pemilu Berkualitas, KPU Gandeng ERI

Jakarta, kpu.go.id- Peningkatan kualitas penyelenggaraan pemilihan umum (pemilu) merupakan prioritas bagi Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai penyelenggara pemilu. Dalam mewujudkan hal itu, KPU bekerja sama dengan Electoral Research Institute (ERI) untuk memberikan analisa kebutuhan guna tingkatkan tata kelola pemilu yang berkualitas, Jum’at (6/3).Dalam diskusi yang dilakukan di ruang rapat lantai 2, Gedung KPU, Jl. Imam Bonjol No. 29 ERI menyampaikan analisa awal hasil wawancara dengan para Komisioner KPU. Analisa tersebut nantinya akan dijadikan bahan riset untuk memberikan rekomendasi akan kebutuhan KPU untuk memperkuat organisasi dan tata kelola penyelenggaraan pemilu.Perwakilan ERI, Sri Nuryanti menyampaikan bahwa KPU sebagai penyelenggara pemilu menghadapi dua tantangan utama, yaitu pertama dukungan penguatan kapasitas dan manajemen adminsitratif terhadap jajaran KPU, dan kedua adalah peningkatan kualitas tata kelola penyelenggara pemilu. “Secara umum ada dua kategori tantangan yang dihadapi oleh KPU, yaitu pertama dukungan penguatan kapasitas dan manajemen adminsitratif terhadap jajaran KPU, dan kedua adalah peningkatan kualitas tata kelola penyelenggara pemilu,” tutur komisioner KPU RI periode 2007-2012 itu.Menurut ERI, kedua permasalahan yang ada di KPU selama ini terjadi disebabkan antara lain adalah kapasitas SDM (sumber daya Manusia) KPU, yang belum memadai, serta belum adanya proses penyelenggaraan pemilu yang mudah, sederhana, transparan, akuntabel, dan memiliki tingkat akurasi yang tinggiTerkait dengan analisa yang disampaikan oleh ERI, Komisioner KPU RI, Arief Budiman menyampaikan bahwa alokasi anggaran menjadi salah satu persoalan yang dihadapi KPU. Arief memberikan contoh pada Pemilu Tahun 2014 kemarin, KPU menghadapi kendala saat akan melakukan bimbingan teknis (bimtek) kepada badan penyelenggara ad hoc di tingkat PPK dan PPS.Saat itu alokasi anggaran bimtek hanya dapat mengakomodir satu anggota PPK. Menurut KPU jumlah tersebut dinilai kurang maksimal untuk dapat menyerap semua informasi berkaitan dengan tata cara pemungutan dan penghitungan suara.Dalam kesempatan yang sama, Komisioner KPU RI, Hadar Nafis Gumay tidak memungkiri bahwa penyelenggara pemilu menghadapi banyak persoalan yang tidak mungkin dapat dipecahkan sendiri oleh KPU. Untuk itu ia berharap ERI dan lembaga independen lainnya dapat membantu KPU dengan menyusun kajian berdasarkan fakta untuk pemilu di Indonesia yang lebih baik. (ajg/red. FOTO KPU/ris/Hupmas)

Definisi Pendidikan Pemilih Pengaruhi Strategi Penyampaian Pesan

Jakarta, kpu.go.id- Dosen Fakultas Ilmu Politik dan Ilmu Politik Universitas Gajah Mada (UGM), Amalinda Savirani menjelaskan bahwa definisi pendidikan mempengaruhi cara penyampaian materi dalam kegiatan pendidikan pemilih, Jum’at (6/3).“Menurut saya, bagaimana kita memahami istilah pendidikan akan punya dampak bagi substansi yang akan disampaikan dalam materi pendidikan pemilih itu,” tuturnya dalam diskusi penyusunan model pendidikan pemilih di Gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI, Imam Bonjol No. 29, Jakarta.Lebih lanjut ia mengatakan, pendidikan pemilih seharusnya tidak dilaksanakan untuk meningkatkan tingkat partisipasi pemilih semata, tetapi juga perlu menumbuhkan pemahaman bahwa proses politik merupakan kegiatan yang baik dan berguna bagi masyarakat.“Makna pendidikan untuk meningkatkan kepedulian politik tidak hanya pada tingginya tingkat partisipasi, tapi lebih jauh dari itu menawarkan pemahaman kepada warga negara bahwa proses politik itu adalah sesuatu yang berguna, bermanfaat, dan baik,” ujar dia.Dalam diskusi yang dihadiri oleh KPU Provinsi DKI Jakarta, Jawa Tengah, Bali, dan DIY itu, Komisioner KPU RI Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, dan Pengembangan SDM, Sigit Pamungkas mengutarakan, pertemuan tersebut bertujuan untuk menetapkan prinsip utama dalam melakukan pendidikan pemilih, materi yang perlu ada dalam model pendidikan pemilih, metode penyampaian, dan bagaimana KPU mengelola program pendidikan pemilih.Penentuan prinsip utama dalam pendidikan pemilih, menurutnya perlu dilakukan agar program pendidikan pemilih dapat berjalan dengan tepat dan menghasilkan output yang jelas.“Berkaitan dengan paradigma atau prisnsip-prinsip utama yang harus kita bangun, kita harus menyusun kerangka besar dalam pendidikan pemilih. Karena tanpa prinsip utama, maka program pendidikan pemilih menjadi tidak jelas,” tuturnya.Untuk dapat menerapkan empat tujuan itu, Sigit mengatakan, KPU perlu melihat pemilu sebagai sebuah siklus. Sehingga pendidikan pemilih perlu dilakukan secara rutin, baik dalam periode pemilu ataupun diluar periode pemilu. “Tentu kesemua itu perlu kita letakkan bahwa pemilu itu sebagai sebuah siklus. Karena dia sebuah siklus, diluar periode pemilu pun warga negara yang sudah masuk dalam usia memilih perlu pendidikan pemilih, meskipun tidak sedang dalam masa pemilu,” tutur Sigit. (ris/red. FOTO KPU/dosen/Hupmas)

KPU Bagi Pengalaman Pileg Dengan Mesir

Kairo, kpu.go.id- Sebagai salah satu kontribusi Indonesia dalam proses demokratisasi di dunia internasional, Komisi Pemilhan Umum (KPU) melalui Ketua KPU RI, Husni Kamil Manik hadir untuk berbagi pengalaman dalam kegiatan International Workhsop on Legislative Election; Indonesia’s Experience yang diadakan di Kairo, Mesir, Selasa, (3/3). Workshop ini merupakan kerjasama antara Institute for Peace and Democracy (IPD) Bali dan Al-Ahram Centre for Political and Strategical Studies (ACPSS) yang difasilitasi oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kairo.KPU dalam kesempatan itu menyampaikan tahapan dan proses penyelenggaraan pemilu legislatif di Indonesia yang dijalankan sesuai dengan asas penyelenggaraan pemilu dan menekankan kepada asas transparansi dan keterbukaan dalam setiap tahapan. Mesir sendiri telah melaksanakan pemilu Presiden pada tahun 2014 dan akan melaksanakan pemilu legislatif paling lambat tahapannya akan dimulai pada bulan April 2015. Selain KPU, turut hadir sebagai narasumber dalam kegiatan ini Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI, Prof. Dr. Muhammad, Hakim Mahkamah Konstitusi, DR. Wahiduddin Adams dan Direktur IPD, I Ketut Putra Erawan yang masing-masing membawakan materi tentang pengalaman Indonesia dalam proses pemilu legislatif mulai dari sejarah, prinsip dan asas, penyelenggaraan, pengawasan serta penyelesaian sengketa hasil pemilu. Peserta workshop ini terdiri dari para stakeholder pemilu yaitu partai politik, penyelenggara pemilu di Mesir, peneliti dan pemerhati pemilu, lembaga swadaya masyarakat pemilu, serta media. dalam setiap sesi, selain pembicara terdapat para responden dari tokoh-tokoh penting pemilu Mesir.Peserta sangat antusias dalam memberikan pertanyaan dan berdiskusi tentang penyelenggaraan pemilu di kedua negara. Menurut para peserta, Indonesia telah sukses dalam penyelenggaraan pemilu, sehingga pengalaman Indonesia adalah pengalaman berharga yang dapat dipelajari oleh Mesir serta negara-negara lain dalam mewujudkan penyelenggaraan pemilu yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil.Dengan pengalaman Indonesia yang disampaikan dalam workshop ini, diharapkan Mesir dapat mengambil best practices dari Indonesia dalam mewujudkan demokrasi yang bersifat home-grown dan berakar dari norma dan tradisi masyarakat Mesir sendiri. (wahdi/red. FOTO KPU/wahdi)

Ketua KPU Tawarkan Kerjasama Pemilu Pada Ketua HEC Mesir

Kairo, kpu.go.id- Sebagai salah satu komitmen KPU dalam mendukung proses demokratisasi negara-negara sahabat, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI, Husni Kamil Manik melakukan pertemuan dengan Ketua High Election Commission (HEC) of Eygpt, Hakim Aiman Abbas bertempat di Dar El-Qada’, yang difasilitasi oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kairo,  Rabu, (4/3). Turut serta dalam pertemuan tersebut adalah Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Prof. Dr. Muhammad, Wakil Duta Besar RI untuk Republik Arab Mesir, Deddy Darussalam dan Konselor Bidang Politik KBRI Kairo, Meri Binsar. Dalam pengantarnya, Ketua HEC menyampaikan ucapan terimakasih atas kunjungan yang dilakukan oleh Ketua KPU, karena kunjungan ini dapat menjadi sarana untuk bertukar pengalaman serta informasi pemilu di kedua negara. Ketua KPU menjelaskan secara singkat tentang proses penyelenggaraan pemilu di Indonesia serta berharap agar Mesir dapat menyelenggarakan pemilu legislatif yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat dengan aman, damai, tertib, lancar dan menjadi pemilu yang demokratis.Dalam kesempatan ini, Ketua KPU juga menawarkan kerjasama antara KPU dan HEC dalam bidang kepemiluan serta berharap kunjungan Ketua HEC ke Indonesia untuk berdiksusi lebih lanjut terkait ruang lingkup kerjasama.Ketua HEC menyambut baik usulan kerjasama yang ditawarkan oleh KPU dan akan berkomunikasi lebih lanjut melalui KBRI Kairo setelah penyelenggaraan Pemilu Legislatif Tahun 2015. (wahdi/red. KPU FOTO/wahdi)

Goverment Public Relations (GPR) Pilar Penting Demokrasi Birokrasi.

Jakarta, kpu.go.id- Public Relations atau Hubungan Masyarakat (Humas) adalah, salah satu bagian struktur organisasi yang berfungsi mengkomunikasikan baik produk ataupun layanan informasi yang dimiliki oleh organisasi tersebut kepada publik.Seiring dengan perubahan dunia yang dinamis dengan kemajuan tehnologi informasi, kenyataannya hingga saat ini Humas pemerintah belum menunjukan pengaruh nyata sebagai garda terdepan di instansinya. Padahal Humas pemerintah adalah ujung tombak suatu instansi dalam membangun komunikasi dua arah antara pemerintah dengan masyarakat.Hal ini ditekankan oleh Menteri Sekretaris Negara Pratikno ketika membuka secara resmi forum tematik  kelembagaan, informasi dan kehumasan bertema "Penguatan kelembagaan Humas Pemerintah Pusat dan Daerah untuk Mendukung Fungsi Goverment Public Relations (GPR).". "Humas merupakan pilar penting dalam demokrasi suatu birokrasi, fungsi humas selain menyampaikan sesuatu yang akan dilakukan pemerintah kepada masyarakat, juga dapat sebagai pendengar apa yang diinginkan masyarakat." jelas Pratikno.Ia juga menambahkan, melalui komunikasi/penyampaian informasi, suatu program pemerintah dapat sukses karena mendapatkan dukungan masyarakat, disana menurutnya fungsi dan keberadaan Humas menjadi bagian penting. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Badan Koordinasi Kehumasan (Bakohumas) Pemerintah dengan Kementerian Sekretariat Negara dan Sekretariat Kabinet, Kamis (5/3), juga dihadiri Menteri Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Rudiantara, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB) Yuddy Chrisnandi, Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto dan Humas Kementerian/Lembaga/Instansi Pemerintah seluruh Indonesia.Mendukung pernyataan Mensesneg, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi BirokrasiYuddy Chrisnandi menegaskan, bahwa Pengelolaan dan tata kelola suatu informasi melalui fungsi kehumasan yang dilaksanakan aparatur pemerintah telah diatur dalam Undang - Undang dan peraturannya."Bagaimana pengelolaan atau tata kelola suatu informasi melalui fungsi kehumasan yang dilaksanakan oleh aparatur pemerintah diatur dalam pasal 28 Undang - Undang Dasar 1945, UU KIP Nomor 14 Tahun 2008 dan Peraturan Kemenpan Nomor 30 Tahun 2011 sebagai dasar hukum." terang Yuddy.Ditambahkan Yuddy, Humas pemerintah mempunyai peran penting dalam pengelolaan dan penyampaian suatu informasi yang benar dan profesional sehingga dapat menjadi suatu opini publik yang positif untuk pemerintah.Sementara itu dalam diskusi Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menjelaskan, bentuk komunikasi dalam penyampaian informasi menuntut inovasi dari para praktisi Humas, pemanfaatan media tehnologi seiring dengan perubahan dunia yang dinamis dapat memperluas cakupan jangkauan serta mempermudah penerimaan informasi."perubahan luar biasa terjadi dalam hal kehumasan, terutama pada pemanfaatan tehnologi baru dalam konteks penyampaian informasi/komunikasi. masyarakat saat ini membutuhkan sesuatu yang bersifat reachable, dengan pemanfaatan tehnologi media saat ini selain dapat memperluas jangkauan juga mempermudah penerimaan informasi yang disampaikan." ungkap Rudi yang pernah menjabat sebagai Komisaris Independen PT. Indosat.Rudi mencontohkan penggunaan media online seperti media sosial tweeter untuk penyampaian informasi, ia menyarankan pada para peserta untuk mulai menggunakan aplikasi messenger atau media sosial sebagai salah satu sarana penyebaran dan penghimpunan informasi, tanpa mengesampingkan media konvensional cetak dan elektronik.Melalui Forum ini kiranya dapat memperkuat  kelembagaan dan peran Humas di tiap institusi pemerintah,  dalam mewujudkan pelaksanaan tugas diseminasi informasi strategis kepada masyarakat. (dam/red.FOTO KPU/dam)

Subsidi APBN Dapat Mencegah Politisasi Anggaran Pilkada

Jakarta, kpu.go.id- Undang-Undang (UU) Nomor 1 Tahun 2015 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Wali Kota akan dilakukan perubahan oleh DPR. Perubahan UU tersebut akan mempengaruhi pengaturan dan sistem pemilu di Indonesia. Salah satu rencana perubahan yang dimaksud adalah masuknya subsidi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam anggaran pilkada serentak. Subsidi APBN tersebut diharapkan dapat mencegah politisasi anggaran yang sering terjadi dalam pilkada, terutama dalam kampanye pilkada.Khusus mengenai dana kampanye dan audit dana kampanye pilkada, Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) ingin memberikan rekomendasi kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU). Untuk itu, Perludem menggelar diskusi bersama Indonesia Corruption Watch (ICW) dan Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran (FITRA), Kamis (5/3) di Media Centre KPU RI.“KPU harus membuat sanksi terhadap pasangan calon yang tidak membuat laporan dana kampanye, tidak hanya bagi pasangan calon yang menang, tetapi juga pasangan calon yang kalah. KPU juga harus memberikan pembatasan pemasukan atau penerimaan sumbangan dana kampanye yang ukurannya dari besaran belanja dana kampanye,” tutur Ketua Perludem, Didi Suprianto.Sementara itu, Peneliti ICW Donal Fariz mengungkapkan, peran strategis KPU dalam mencegah praktek tindakan korupsi, terutama menyangkut pelaksanaan pilkada. Apabila kandidat peserta pilkada berhutang kepada cukong-cukong pemilu dalam pembiayaan pilkada sebagai penyumbang dana, maka akses korupsi akan menjadi terbuka. Cukong-cukong tersebut akan mendekati kandidat yang berpotensi menang besar dalam pilkada.“Pengumpulan dana kampanye dan belanja kampanye harus terbuka, mengingat belum adanya kesadaran utuh dari peserta pemilu, maka butuh upaya paksa dari penyelenggara pemilu dalam peraturannya. KPU harus mempersempit celah-celah yang bisa dimanfaatkan, hal itu dengan memantau pengumpulan dan belanja dana kampanye,” tutur Donal Fariz.Donal menambahkan, KPU dan KPU di daerah bisa bekerjasama dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dalam hal tersebut. Hasil PPATK tersebut nantinya bisa disandingkan dengan hasil Kantor Akuntan Publik (KAP), sehingga akan terlihat apabila ada kecurangan. Kemudian apabila KPU memiliki keterbatasan kewenangan dalam memonitor rekening khusus dana kampanye (RKDK), hal tersebut dapat juga dilakukan oleh Bawaslu.Kemudian Koordinator advokasi dan investigasi FITRA, Apung Widadi mengungkapkan konsep pilkada serentak ini adalah penghematan anggaran, sehingga aturan mainnya jangan sampai kontradiktif. Seperti subsidi dana kampanye dari APBN juga tidak boleh kontradiktif dan malah memboroskan keuangan negara. FITRA telah melakukan rekomendasi mengenai adanya tumpang tindih antara APBN dan APBD, karena dalam pilkada serentak ini ada beberapa item yang pembiayaannya memakai APBN.“FITRA lebih mendorong penggunaan APBN, agar daerah tidak seenaknya mengalokasikan anggaran pilkada, padahal anggaran pendidikan dan kesehatan justru lebih rendah daripada anggaran pilkada. Subsidi APBN ini juga dilakukan dalam upaya menghilangkan politisasi anggaran, sehingga tidak ada lagi dana bantuan sosial atau bansos untuk pilkada, tidak ada lagi kepala daerah yang memanfaatkan celah ini, dan ini adil bagi seluruh peserta pilkada,” papar Apung Widadi.Metode pembiayaan pilkada juga harus jelas, tambah Apung, bagian mana yang menggunakan APBD dan bagian mana yang menggunakan subsidi APBN. Apung mencontohkan, anggaran pelaksaan pemungutan suara pilkada menggunakan APBD, sedangkan khusus dana kampanye bisa dikelola KPU menggunakan APBN. Penggunaan APBN ini juga dapat mengurangi intervensi terhadap KPU di daerah, pengawasannya juga terpusat dan ada standar yang sama seluruh Indonesia. (arf/red. FOTO KPU/dosen/Hupmas)

Populer

Belum ada data.